Biarkan hari berjalan seperti biasa
Menyaksikan raga insan yang semakin menua
Menyaksikan mereka berpeluh mengejar mimpi-mimpinya
Diantara pagi damai dan senja yang memerah
...
Berhentilah sejenak Bertanya pada hati Tidakkah ia lelah? Fana dunia menyeret pada lena Hari-hari menggilir dan menggulir diri Bagai roda Berputar tiada henti
Hm... mari kita menghela nafas sejenak.
Ya, lelah bukan? Menjalani rutinitas seharian yang cukup menyibukkan...?
Mungkin ada banyak harapan baik yang hendak kita wujudkan, lalu
berusaha dan bekerja keras agar Allah mengabulkan setiap impian. Ah, tak
usah bersedih hati hingga kecewa dan labil diri, jika tak semua sesuai
keinginan, jika banyak hal yang masih jauh dari harapan, jika apa yang
kita list di daftar impian ternyata tak kunjung jadi kenyataan.
Berawal
dari nutfah yang hina, lalu segumpal darah, lalu segumpal daging, lalu sebentuk
makhluk yang diberi nyawa, aku bukanlah apa-apa, bukan siapa-siapa…
Takdir
memilihku terlahir ke dunia, mencecap udara, rasa sakit dan bahagia. Merangkak
dengan lemah, mengoceh tanpa makna, pelan-pelan belajar memahami arti kehidupan
sesungguhnya.
Diantara
seluruh makhluk yang tercipta, di belantara angkasa dan semesta, aku bagai
noktah, nyaris tak terlihat oleh mata. Aku bukan apa-apa, bukan siapa-siapa.
Anakmu adalah anakmu dan tetap akan menjadi anakmu. Dia
tetaplah anakmu meski musim berubah, keinginan berbeda, lalu jarak dan waktu
memisah.
Anakmu
adalah anakmu…bagaimanapun dia atau dirimu sendiri. Ia telah ada dengan perantaraan
dirimu. Dalam tubuhnya mengalir darah yang sama. Sebagian dari dirimu mewujud
dalam dirinya.
Anakmu
tetap akan menjadi anakmu: meski engkau tak mengakui atau orang lain yang
menolak pengakuanmu. Ia tetap manusia yang menjadi tanggung jawabmu.
Adalah
kewajibanmu untuk memastikan segala kebaikan baginya, dalam segala hal.
Ya,
dia adalah tanggung jawabmu. Engkaulah manusia yang paling bertanggung jawab
atasnya di muka bumi ini hingga di penghujung zaman, dan ketika dunia tin
ggal
masa lalu….
Engkau
bertanggung jawab atasnya. Atas kebahagiaannya, atas keselamatannya, atas
kebebasannya, atas pemenuhan hak-haknya.
Anakmu
adalah anakmu…tapi dia bukan milikmu, karena tiap jiwa adalah milikNya semata,
tak ada yang menemaniNya dalam hak kepemilikan. Dia adalah titipanNya padamu,
yang memiliki hak-haknya di atas pundakmu, seperti dia: yang memanggul
hak-hakmu di kedua bahunya.
Ada yang mengatakan hitam itu adalah hitam, putih juga tetap sama.
Tapi ada yang juga berkata jika hitam itu hakikatnya putih, sebaliknya putih
hakikatnya hitam. Ada juga yang berpendapat: hitam dan putih tidak berdiri
sendiri, keduanya telah 'sepakat' mewujud dalam satu warna: abu-abu.
Tak ada
yang salah pada 'hitam' dan 'putih' itu. Mereka tetap dalam warnanya
masing-masing. Kacamata orang yang melihatnyalah yang seringkali keliru.
Sehingga terkadang hitam dan putih 'bertukar posisi' dalam pandangannya. Atau
jika kebenaran itu tak terlihat baginya, ia pun memutuskan bahwa segalanya
telah menjadi kabur: itulah wilayah abu-abu yang kadang-kadang tak bisa
dipertanggungjawabkan.
Seumpama itulah kebenaran. Setidaknya bagiku, jika yang lain pun tidak
sepakat dengan perumpamaan itu. Hari ini, kebenaran seringkali teraniaya karena
dituding sebagai suatu kesalahan. Benar dan salah lebih banyak ditentukan oleh
kebebasan berpikir yang tak memiliki batas atau nilai-nilai suci yang membatasi
liarnya. Benar dan salah tak banyak didasarkan pada alat ukur yang paling
shahih, melainkan lebih sering diserahkan pada keinginan kebanyakan orang yang
sekedar memperturutkan hawa nafsu semata.
Ketika kau tahu itu dosa tapi tetap saja menerjangnya karena
satu atau bahkan tanpa alasan, mungkin iseng...lalu keisengan itu lambat laun
akan menjadi candu. Sejatinya ia sampah bahkan noda, tapi kau tak sanggup
berhenti karena merasa butuh. Padahal sebagian ia rupanya hanya pengalih untuk
dukamu juga amarahmu yang tak kau obati dengan benar. Kebanyakan obat memang
pahit, dan kau memilih racun berperisa manis.
Apa yang lebih getir dari taubat...?
Taubat yang terus berulang, bukan dengan kesungguhan atau
juga kekhawatiran bahwa permohonan dan pengakuan tak cukup diajukan sekali
untuk bisa didengarkan. Tapi karena penambal kesalahan itu sudah robek berulang
kali. Slide kesalahan yang sama hingga membosankan. Terlalu naif. Berulangkali
terjatuh di lubang yang sama...
About me
Hanya sebuah noktah diantara segala yang Ia cipta. Mencoba mengikat makna lewat kata.
Quote
Sesungguhnya di dalam hati terdapat sebuah kegelisahan yang tidak mampu ditenangkan kecuali dengan berhimpun karena Allah & pergi meninggalkan kegelisahan itu menuju Allah