dunia

Musafir Di Bawah Pohon

November 12, 2017



pixabay.com


Alkisah, suatu waktu para musafir melakukan perjalanan jauh. Di tengah perjalanan yang panjang dan melelahkan itu, mereka temui pepohonan yang rindang. Maka berhentilah sejenak sang musafir, berteduh dari terik matahari, melepas lelah di bawah pohon. 

Perjalanan masih panjang, jarak yang hendak ditempuh begitu jauh dan mereka berburu dengan waktu. Sebagian tetap mawas diri, tidak sampai terlelap dalam tidur panjang yang nyenyak. Namun sebagian yang lain lupa bahwa mereka hanya akan tinggal sementara, berlaku seolah akan menetap di situ. Ada yang membuat bangunan indah di bawah pohon tersebut, lupa jika esok hari mereka akan meninggalkannya, tak mungkin membawanya serta. 

Di Bawah KetetapanNya

November 09, 2017




  
Perputaran hari terus berjalan, tak satu pun bagiannya yang mampu kita tahan. Berawal dari fajar yang mengantar damainya pagi, lalu siang, lalu senja temaram yang berujung pada pekatnya malam. Tiap-tiap kita berjalan di atas garis yang telah Ia tetapkan, bertumbuh di antara banyak asa dan keinginan. Dan diantara keinginan sebagian manusia adalah menggenapkan separuh diin-nya, menemukan seseorang yang akan bersamanya hingga tua bahkan hingga ke surga. Maka siapa yang tak berbahagia, kala menerima pinangan oleh calon imamnya. Berharap akan membangun keluarga baru yang tak biasa, karena tak bersebab semata oleh cinta yang fana, tapi ia adalah cita-cita mulia yang dibangun diatas tuntunan agama.

Sebutlah semua perumpamaan yang mampu mewakili perasaannya, mereka yang hatinya berbunga menjelang hari bahagia. Mereka yang menanti hari H dengan hati berdebar dan bayangan akan meriahnya perayaan cinta sah sepasang manusia. Mengalir ucapan selamat serta doa-doa dari kawan dan kerabat seluruhnya. Siapa yang tak berbahagia?

kisah

Menemukan Makna lewat Tarbiyah di Wahdah Islamiyah

November 05, 2017




Pernahkah kau mengalaminya, ada sesuatu yang terasa kosong di hatimu? Kau tak tahu mengapa dan tak tahu bagaimana menutupinya. Mungkin pernah kau lakukan berbagai cara untuk menghalau kegalauan karenanya. Segala cara yang hanya mampu menenangkanmu sesaat. Membuatmu tersenyum bahkan tertawa beberapa menit, lalu berakhir tangis tanpa suara yang jeritannya tertahan jauh di dasar hati. 

Begitupun denganku. Ada banyak kebingungan menghantui, kegelisahan selalu saja rasanya mengintai, dan itu bertambah dengan berbagai pertanyaan yang bermain di benakku seolah tanpa henti. Aku masih duduk di bangku SD disaat pertanyaan membingungkan itu bermunculan tanpa jawaban. Mengapa aku ada? Mengapa aku hidup? Jika aku tak ada apa yang akan terjadi, adakah sesuatu yang berbeda pada dunia tanpa keberadaanku? Apa yang akan kurasakan jika mati atau tiada? Saat kumenutup mata, tak ada yang terlihat kecuali kegelapan. Apakah kira-kira seperti itu rasanya jika kita tidak ada? Tak melihat dan tak merasakan sesuatu di sekitarnya? 

Mungkin sejak saat itu, tanpa sadar aku telah merasakan ada sesuatu yang kosong dalam hidupku. Sebuah celah yang hanya bisa ditutupi dengan jawaban yang menenangkan. Jawaban tentang berbagai pertanyaan akan hakikat kehidupan. Tapi tak pernah kutemukan jawabannya. Aku bahkan tak punya keberanian menanyakannya kepada orang-orang di sekitarku. Bertanya tentang hidup? Sesuatu yang dianggap biasa dan dilakoni oleh semua manusia? Atau adakah orang yang juga pernah bertanya sepertiku? Bisa saja kan? Tapi mengapa tak terlihat gurat kebingungan di wajah-wajah mereka? Tak ada yang sekalipun bertanya, mengapa aku hidup? Lagipula, pertanyaan macam apa itu? Mungkin orang-orang akan menganggapku aneh lalu menertawakanku. Pfhfh...

hidayah

Mengeja Hidayah Bersama Wahdah Islamiyah

November 03, 2017



Entah kapan tepatnya, aku mengeja kata "hidayah". Aku lupa, bahkan tak pernah mencatat tanggalnya. Hanya saja, yang terekam jelas di ingatan, saat itu adalah fase dimana seorang insan sangat mungkin mengalami banyak guncangan. Masa remaja yang lekat dengan diksi "storm and stress", masa putih abu-abu yang penuh badai. Salah seorang sepupu bahkan sempat mewanti-wanti,

"Eh tahu nggak, masa SMA itu masa puber lho, kamu pasti akan mengalaminya..." kurang lebih demikian ucapnya. Aku tak lantas percaya, bukan... aku bahkan tak mau percaya. Ya Allah, kata "puber" biasanya berkonotasi negatif atau berkaitan dengan lawan jenis. 

Tahun 2002, awal kumenyusun cita-cita yang tak biasa menjelang SMA. Dimulai dengan seragam sekolah, aku meminta izin untuk mengenakan baju lengan panjang, rok panjang lengkap dengan jilbabnya. Terinspirasi oleh teman kelas sekaligus tetangga yang kala itu kerap kujumpai mengenakan busana tertutup di sekitar rumah. Walaupun terlihat sedikit aneh karena masih memakai seragam pendek jika ke sekolah. Alhamdulillah, ayah dan ibu setuju saja. Semuanya berjalan lancar kecuali satu hal, entah mengapa rasanya aku terlihat lebih jelek saat melihat bayangan diriku dengan busana tertutup di cermin.

Popular Posts

Total Tayangan Halaman